Tools Lengkap ≠ Aman: Kenapa Organisasi dengan 15 Security Tools Bisa Lebih Rentan
TL;DR
Lebih banyak tools bukan berarti lebih aman. Organisasi dengan 15 tools bisa lebih rentan dari yang punya 3 — kalau yang 3 itu benar-benar dijalankan.
Alert fatigue membunuh deteksi. 10.000 alert per hari dengan tim SOC 3 orang = 95% blind spot.
Shelfware itu nyata. Rata-rata organisasi hanya benar-benar menggunakan 25-50% kapabilitas tools yang mereka beli.
Investasi yang benar: people first, tools second. Satu analis yang kompeten lebih berharga dari tiga tools yang nggak ada yang paham.
Pembukaan: Koleksi, Bukan Pertahanan
Gw pernah audit satu organisasi yang punya 17 security tools.
SIEM. EDR. WAF. DLP. CASB. Vulnerability scanner. Threat intelligence platform. Privileged access management. Dan beberapa lagi yang bahkan tim IT-nya nggak ingat pernah beli.
Di atas kertas, security stack mereka lebih lengkap dari kebanyakan perusahaan Fortune 500.
Di lapangan? Mereka baru sadar data customer bocor setelah 6 bulan — dari alert yang muncul di SIEM mereka sendiri tapi nggak pernah dibaca.
Ini bukan kasus unik. Ini pola.
Dan polanya selalu sama: organisasi mengira bahwa membeli security tools sama dengan memiliki security. Padahal tools yang nggak dioperasikan dengan benar bukan cuma sia-sia — tools itu aktif berbahaya, karena menciptakan rasa aman yang palsu.
Vendor-Driven Security: Siklus yang Nggak Pernah Berakhir
Perhatiin pola ini:
Breach terjadi → panik → vendor datang → presentasi meyakinkan → beli tools → rasa aman kembali → repeat.
Siklus ini menguntungkan semua orang kecuali organisasi itu sendiri.
Vendor dapat revenue. Manajemen bisa bilang ke board "kita sudah invest di security." Tim security punya tools baru untuk di-showcase. Regulator lihat ada pengeluaran.
Tapi nggak ada yang nanya pertanyaan paling penting: siapa yang akan mengoperasikan ini setiap hari?
Membeli SIEM itu gampang. Yang susah itu: siapa yang nulis detection rule? Siapa yang review alert jam 3 pagi? Siapa yang tuning false positive supaya true positive nggak tenggelam?
Membeli EDR itu satu klik procurement. Yang susah itu: siapa yang maintain policy-nya? Siapa yang investigate kalau ada suspicious behavior? Siapa yang response kalau EDR detect lateral movement?
Tools tanpa operator itu kayak mobil tanpa pengemudi. Nggak peduli seberapa mahal mobilnya.
Alert Fatigue: Pembunuh Senyap
Di artikel sebelumnya, gw nyebut soal SIEM yang generate 10.000 alert per hari dengan tim SOC 3 orang.
Mari kita hitung lebih detail.
10.000 alert per hari. Tim SOC 3 orang, kerja shift 8 jam. Artinya setiap analis harus memproses sekitar 420 alert per shift. Itu 1 alert setiap 1,1 menit — tanpa istirahat, tanpa meeting, tanpa makan.
Secara matematis, ini mustahil. Dan semua orang tahu itu mustahil.
Jadi apa yang terjadi? Analis mulai mengabaikan alert. Bukan karena malas — tapi karena itu satu-satunya cara bertahan. Otak manusia nggak bisa memproses ratusan sinyal bahaya setiap jam tanpa mulai men-dismiss semuanya.
Ini yang namanya alert fatigue. Dan ini bukan masalah individu — ini masalah sistem.
Yang lebih ironis: tools yang seharusnya meningkatkan visibility justru mengurangi visibility, karena sinyal penting tenggelam dalam lautan noise.
Solusinya bukan beli SOAR di atas SIEM. Solusinya mundur satu langkah dan tanya: apakah kita benar-benar butuh memantau semua ini, atau kita bisa mulai dengan memantau yang benar-benar penting dengan benar?
Shelfware: Miliaran Rupiah Jadi Pajangan
Gartner pernah estimasi bahwa organisasi rata-rata hanya memanfaatkan 25-50% kapabilitas security tools yang mereka beli.
Artinya setengah sampai tiga perempat dari investasi security itu — secara literal — nggak menghasilkan apa-apa.
Gw pernah lihat ini berkali-kali:
DLP yang nggak pernah di-configure policy-nya. Terpasang di semua endpoint. Dashboard aktif. Tapi karena nggak ada yang define apa yang dianggap "sensitive data" di konteks organisasi itu, tools-nya cuma mengumpulkan telemetry yang nggak pernah di-action.
Vulnerability scanner yang jalan mingguan, tapi hasilnya nggak pernah di-remediate. Setiap minggu, report baru muncul. Setiap minggu, findings yang sama muncul ulang. Tidak ada proses remediation. Tidak ada ownership. Scanner-nya jalan. Security-nya nggak.
Threat intelligence feed yang aktif tapi nggak ada proses untuk mengubah intel jadi action. Data IOC mengalir setiap hari. Nggak ada yang correlate dengan environment internal. Nggak ada yang bikin detection rule dari intel itu.
Ini bukan masalah tools-nya. Tools-nya bagus. Capable.
Ini masalah keputusan: siapa yang memutuskan untuk membeli tanpa memperhitungkan kapasitas untuk mengoperasikan?
The Real Cost: Bukan Cuma Lisensi
Harga lisensi itu baru permukaan.
Total cost of ownership security tools itu termasuk:
Implementation. Berapa bulan untuk deploy dan configure properly? Siapa yang melakukan? Internal team yang sudah overloaded, atau vendor yang akan pergi setelah project selesai?
Training. Siapa yang dilatih? Berapa lama sampai proficient? Apa yang terjadi kalau orang itu resign?
Ongoing tuning. Detection rules butuh di-update. Policy butuh disesuaikan. False positive butuh di-address. Ini bukan one-time effort — ini operasi harian.
Opportunity cost. Uang yang dihabiskan untuk 1 tools enterprise bisa jadi cukup untuk hire 2 analis full-time. Dan 2 analis yang kompeten, dengan tools yang lebih sederhana, hampir selalu menghasilkan security posture yang lebih baik dari tools mahal tanpa operator.
Technical debt. Setelah integrator pergi, siapa yang maintenance? Gw pernah ketemu organisasi yang masih jalan di versi SIEM 3 tahun lalu karena nggak ada yang berani upgrade — takut config rusak.
Semua ini jarang masuk kalkulasi waktu procurement. Yang dilihat: fitur di slide deck vendor. Yang nggak dilihat: realita operasional setelah tools live.
Yang Sebenarnya Bekerja
Organisasi dengan security posture terbaik yang pernah gw lihat bukan yang punya tools paling banyak.
Mereka yang paling disiplin.
Right-size the stack. Lebih sedikit tools, tapi semuanya di-configure, di-tune, dan di-operate dengan benar. Tiga tools yang 100% dijalankan mengalahkan 15 tools yang masing-masing cuma 20% utilized.
People first, tools second. Sebelum beli tools baru, tanya: apakah tim kita punya kapasitas untuk mengoperasikan yang sudah ada? Kalau belum — investasi di orang dulu.
Validasi, bukan asumsi. Purple team exercise. Tabletop simulation. Test apakah tools yang sudah terpasang benar-benar mendeteksi apa yang seharusnya mereka deteksi. Banyak organisasi shock waktu pertama kali tes — karena ternyata tools mahal mereka miss hal-hal basic.
Ukur yang benar. Jangan ukur berapa banyak tools yang dimiliki. Ukur detection coverage: berapa persen dari teknik serangan yang relevan yang bisa kita deteksi? Berapa mean time to detect? Berapa mean time to respond?
Angka-angka ini lebih jujur dari dashboard vendor mana pun.
Tiga Pertanyaan Sebelum Beli
Sebelum approve PO untuk security tools berikutnya, tanya tiga hal:
Siapa yang akan mengoperasikan ini setiap hari? Bukan "siapa yang bisa" — tapi siapa yang akan, sebagai bagian dari job description mereka, dengan waktu yang dialokasikan.
Apakah tools yang sudah ada benar-benar sudah dimanfaatkan penuh? Kalau vulnerability scanner masih generate findings yang sama setiap minggu tanpa remediation, masalahnya bukan di scanner.
Apa yang berubah kalau kita invest jumlah yang sama di orang? Hire analis. Training tim existing. Bangun proses. Kadang itu jauh lebih berdampak dari tools baru mana pun.
Security bukan soal koleksi. Security soal operasi.
Dan operasi butuh orang yang kompeten, proses yang jalan, dan keputusan yang jujur tentang kapasitas kita yang sebenarnya.
Artikel kedua dari seri tentang realita security di lapangan. Minggu depan: Security Theatre — ilusi keamanan yang membuat kita merasa aman padahal tidak.